Pages

Ahad, 26 April 2015

Pulut Kuning

PULUT BERWARNA KUNING DALAM AGAMA HINDU

(Teks berbahasa Inggeris disertakan terjemahannya)

Yellow colour is considered auspicious and sacred in Hindu religion. That is why women prefer to wear yellow coloured clothes at most of the auspicious ceremonies, during marriage, birth of a child and religious observances. The yellow colour holds the same significance among the flowers.

Terjemahan:
Warna kuning dianggap simbol bertuah dan suci dalam agama Hindu. Oleh sebab itu wanita lebih gemar memilih warna kuning semasa majlis meraikan kemenangan sesuatu, semasa perkahwinan, kelahiran anak, dan majlis keagamaan. Warna kuning memainkan peranan yang sama penting seperti bunga bunga.

In Hindu religion, it is a tradition to draw the picture of Lord Ganesha and to adhere yellow coloured rice grains with the invitation card of a marriage.

Terjemahan:
Dalam agama Hindu, adalah tradisi untuk melukis gambar Tuhan Ganesha dan melekatkan pulut kuning bersama kad jemputan perkahwinan.

http://mdaily.bhaskar.com/news/know-your-beliefs/4593/JM-yellow-rice-grains-make-wedding-cards-auspicious-1834122.html

Terjemahan oleh: @KamalIqlaas
Teks dan pautan oleh @CikguRahim

Khamis, 9 April 2015

Hadis Talqin

Baru-baru ini, saya ditunjukkan satu tulisan berkaitan beberapa riwayat yang berkaitan dengan amalan talqin selepas pengkebumian jenazah. Ia membuatkan saya tercari-cari status hadis di bawah ini. Inilah satu-satunya hadis yang menyokong amalan talqin selepas pengkebumian jenazah (jika pembaca menjumpai hadis lain, harap kongsikan dengan saya). 

Riwayat yang lain, menyebut tentang amalan mendoakan simati selepas pengkebumiannya, amalan menunggu seketika sekadar selesainya dilapah seekor sembelihan dan diedarkan dagingnya, dan amalan tazkirah dikuburan.

Saya telah mendengar beberapa soal-jawab di youtube berkenaan hadis tersebut. Kebanyakan masyaikh mengatakan hadis ini, hadis yang lemah. Namun, ada beberapa ulama yang mengatakan hadis ini masih boleh diambil untuk menyokong amalan talqin. Kalian boleh mencari tulisan-tulisan tersebut dengan google. Banyak fatwa mengenai talqin menggunakan hadis ini sebagai dalil.  

Perkara ini membuatkan saya teruskan kajian dan akhirnya saya menemui catatan kajian Syeikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadeeth Al-Dho'eefah Wa Al-Maudhu' (Kitab kajian hadis lemah dan palsu). Pada mulanya, saya ingin catatkan komentar beliau tetapi setelah menjumpai kajian di bawah ini, saya fikir cukuplah saya kongsikan tulisan tersebut di sini (link asal: http://pustakaimamsyafii.com/mentalqin-mayit-setelah-dikuburkan.html).  Saya tambahkan teks Arab sebagai rujukan tambahan. 

 عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَوَدِيِّ قَالَ : شَهِدْتُ أَبَا أُمَامَةَ ، وَهُوَ فِي النَّزْعِ فَقَالَ : إِذَا أَنَا مِتُّ فَاصْنَعُوا بِي كَمَا أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [ أَنْ نَصْنَعَ بِمَوْتَانَا ، أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ] فَقَالَ : " إِذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْ إِخْوَانِكُمْ فَسَوَّيْتُمُ التُّرَابَ عَلَى قَبْرِهِ فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ ، ثُمَّ لِيَقُلْ : يَا فُلَانُ بْنَ فُلَانَةَ . فَإِنَّهُ يَسْمَعُهُ وَلَا يُجِيبُ . ثُمَّ يَقُولُ : يَا فُلَانُ بْنَ فُلَانَةَ . فَإِنَّهُ يَسْتَوِي قَاعِدًا . ثُمَّ يَقُولُ : يَا فُلَانُ بْنَ فُلَانَةَ . فَإِنَّهُ يَقُولُ : أَرْشِدْنَا رَحِمَكَ اللَّهُ - وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ - فَلْيَقُلْ : اذْكُرْ مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا شَهَادَةَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّكَ رَضِيتَ بِاللَّهِ ، رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا ، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا ، وَبِالْقُرْآنِ إِمَامًا ، فَإِنَّ مُنْكَرًا وَنَكِيرًا يَأْخُذُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِيَدِ صَاحِبِهِ ، وَيَقُولُ : انْطَلِقْ بِنَا مَا نَقْعُدُ عِنْدَ مَنْ لُقِّنَ حُجَّتَهُ ، فَيَكُونُ اللَّهُ حَجِيجَهُ دُونَهُمَا " . [ فَـ ] قَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ أُمَّهُ ؟ قَالَ : " فَيَنْسِبُهُ إِلَى حَوَّاءَ : يَا فُلَانُ بْنَ حَوَّاءَ " 

رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ ، وَفِي إِسْنَادِهِ جَمَاعَةٌ لَمْ أَعْرِفْهُمْ . 


Oleh: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf

A. Al Kisah
Diriwayatkan dari Sa’id bin Abdulloh Al Audi berkata :
“Saya menyaksikan Abu Umamah saat menjelang meninggal dunia, beliau berkata :
“Apabila saya meninggal dunia maka lakukanlah bagiku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rosululloh untuk kami lakukan pada orang yang meninggal dunia. Beliau bersabda :
“Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia lalu sudah kalian ratakan kuburannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian berdiri pada sisi kepala kubur, lalu hendaklah dia berkata : Wahai Fulan anaknya Fulanah, karena dia akan mendengarnya meskipun tidak bisa menjawab. Kemudian katakan : Wahai Fulan bin Fulanah, maka dia akan duduk sempurna. Kemudian katakan Wahai Fulan anaknya Fulanah, maka dia akan berkata : “Berilah aku petunjuk, semoga Alloh merohmati kalian.” Lalu hendaklah dia katakan : “Ingatlah apa yang engkau bawa keluar dari dunia ini yaitu syahadat bahwa tiada Ilah yang berhak di sembah melainkan Alloh dan Muhammad adalah seorang hamba dan utusan Nya, dan engkau ridlo Alloh sebagai robb mu, islam sebagai agamamu, Muhammad sebagai nabi mu, al Qur’an sebagai imam mu. Karena salah seorang dari malaikat Munkar dan Nakir akan mengambil tangan yang lainnya seraya berkata : Pergilah, tidak usah duduk pada orang yang sudah di talqinkan hujjahnya.” Dengan ini semua maka Alloh akan menjadi hujjahnya dalam menghadapi keduanya.”
Lalu ada salah seorang yang bertanya : “Wahai Rosululloh, Bagaimana kalau tidak diketahui nama ibunya ?
maka Rosululloh bersabda : “Nasabkanlah kepada Hawa’ , katakan fulan bin Hawa.”
.
B. Kemasyhuran kisah ini
  • Kisah inilah yang menjadi dasar berpijak orang-orang yang melakukan prosesi talqin setelah mayit selesai dikuburkan. Mereka duduk disisi kuburan lalu berkata : Wahai bapak / ibu fulan, engkau nanti akan didatangi dua malaikat, keduanya akan menanyakan kepadamu begini dan begitu….”
  • Mengingat bahwa perbuatan ini seakan-akan menjadi sebuah kelaziman di negeri kita ini, maka harus diketahui derajat hadits ini sehingga menjadi peringatan bagi semuanya.
.
C. Derajat kisah
Kisah ini Munkar
Takhrij kisah :
  • Diriwayatkan oleh Thobroni dalam Ad Du’a dan Mu’jam al Kabir 8/289 no : 7979 berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Uqoil Anas Al Khoulani berkata : ” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibrohim al Ala’ berkata : “Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Ayyasy, berkata : “Telah menceritakan kepada kami Abdulloh bin Muhammad Al Qurosyi dan Yahya bin Abi Katsir dari Sa’id bin Abdulloh al Audi.
  • Kisah ini juga diriwayatkan oleh Al Khol’i dalam Al Fawa’id 2/55 dari Abu Darda’ Hasyim bin Muhammad al Anshori berkata : “Telah menceritakan kepada kami Utbah bin Sakan dari Abu Zakariya dari Jabir bin Sa’id Al Azdi berkata : Saya masuk menemuiAbu Umamah Al Bahili saat beliau sedang sakarotul maut, – Kemudian beliau menyebutkan kisah diatas-.
Sisi kelemahan kisah ini :
  • Adapun sanad riwayat Ath Thobroni, maka sisi kelemahannya adalah banyaknya rowi yang majhul, sebagaimana dikatakan oleh Al Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id 3/45.
  • Sedangkan riiwayat Al Khol’i, maka lebih parah lagi, karena selain banyaknya beberapa rowi yang majhul, ternyata Utbah bin Sakanadalah seorang yang ditinggalkan hadisnya bahkan tertuduh memalsukan hadits, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Daruquthnidan Baihaqi.
  • Oleh karena itulah,  hadits ini dilemahkan oleh para ulama’.
  • Berkata al Haitsami dalam al Majma’ 3/45 : Dalam sanadnya banyak perowi yang tidak saya kenal.
  • Berkata Ibnu Sholah : Sanadnya tidak bisa dijadikan hujjah.
  • Al Imam An Nawawi juga melemahkannya, sebagaima dalam Al Majmu’ Syarah Muhadzab 5/304 dan al Fatawa hal : 54.
  • Berkata Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa 24/296 : Hadits ini tidak dihukumi shohih.
  • Berkata Imam Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’ad 1/523 : “Tidak shohih secara marfu’.” Beliau juga berkata dalam Tahdzibus Sunan : “Hadits ini disepakati akan kelemahannya.”
  • Imam Al Iroqi juga melemahkannya dalam takhrij Ihya’ 4/420.
  • Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Nata’ijul Afkar dan Fathul Bari 10/563 : Lemah sekali.
  • Hadits ini juga dilemahkan oleh Zarkasyi dalam Al La’ali al Manstsuroh hal : 59, As Suyuthi dalam Ad Duror al Manstsuroh hal : 25 .
  • Berkata Imam Ash Shon’ani dalam Subulus Salam 2/114 : Dari keterangan para ulama’ tersebut dapat disimpulkan bahwa hadits ini lemah, maka janganlah ada yang tetipu dengan banyaknya orang yang mengamalkannya.”
  • Berkata Syaikh Al Albani : Kesimpulannya bahwa hadits ini munkar, jika bukan malah palsu.
  • Berkata Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini : “Matan hadits ini juga munkar karena bertentangan dengan hadits yang shohih bahwa seseorang dipanggil dengan nama bapaknya, sebagaimana dalam hadits
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْغَادِرَ يُرْفَعُ لَهُ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ
Dari Ibnu Umar bahwa Rosululloh bersabda : “Sesungguhnya seorang pengkhianat akan diangkat benderanya pada hari kiamat dan dikatakan : Inilah pengkhianatan Fulan bin Fulan.”
(HR. Bukhori Muslim)
  • Berkata Imam Al Bukhori : “Bab manusia dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka.”
(Lihat Adh Dho’ifah Syaikh Al Albani : 599, majallah At Tauhid Mesir edisi 8 tahun 29 rubrik hadits asuhan Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini, serta rubrik Tahdzirud Da’iyah oleh Syaikh Ali Hasyisy dalam Majalah Tauhid Mesir juga edisi Robiul Awal tahun 1428)
.
D. Ganti yang Shohih
Yang merupakan sunnah Rosululloh setelah menguburkan mayit adalah mendo’akan agar si mayit diampuni dosa-dosanya dan diberi kemantapan untuk bisa menjawab fitnah kubur. Sebagaimana hadits :
عن عثمان بن عفان رضى الله عنه قال: ” كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه فقال: استغفروا لاخيكم، وسلوا له التثبيت، فإنه الان يسإل “.
Dari Utsman bin Affan berkata : Apabila Rosululloh telah selesai menguburkan mayit, maka beliau berdiri padanya dan bersabda : Mohonlah ampun untuk saudara kalian, dan mohonlah kemantapan baginya, karena dia sekarang ditanya.”
(HR. Abu Dawud 2/70, Hakim 1/370, Baiaqi 4/56, Abdulloh bin Ahmad dalam Zawaid Zuhd hlm : 129. Berkata Hakim : Sanadnya shohih dan disepakatai oleh Adz Dzahabi, berkata An Nawawi : Sanadnya bagus, Berkata syaikh Al Albani : hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh Hakim dan Dzahabi. Lihat Ahkamul Janaiz no : 107)

F. Faedah:
Sebagian orang berdalih dengan dua kisah berikut untuk melegalkan talqin setelah mengubur mayit :
1.Ucapan Amr bin Ash
فَإِذَا أَنَا مُتُّ فَلَا تَصْحَبْنِي نَائِحَةٌ وَلَا نَارٌ فَإِذَا دَفَنْتُمُونِي فَشُنُّوا عَلَيَّ التُّرَابَ شَنًّا ثُمَّ أَقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ وَيُقْسَمُ لَحْمُهَا حَتَّى أَسْتَأْنِسَ بِكُمْ وَأَنْظُرَ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّي
“Jika saya meninggal dunia, maka jangan ada yang meratapiku, lalu jika kalian menguburku maka tibunlah akau dengan tanah, kemudian berdirilah sebentar sekedar waktu yang cukup untuk menyembelih seekor unta serta membagikan dagingnya sehingga saya bisa merasa tenang dengan kalian dan saya bisa mengetahui apa yang saya jawab untuk para utusan Robbku (malaikat).”
(HR. Muslim)
Kisah ini sama sekali bukan dalil talqin, hal ini bisa dilihat dari beberapa sisi :
  • Kisah ini hanya mauquf kepada sahabat Amr bin Ash.
  • Setahu kami, tidak ada yang melakukan ini dari kalangan para sahabat lainnya.
  • Dalam kisah ini tidak ada perintah talqin.
2. Hadits Baro’ bin Azib
Dari Baro’ bin Azib berkata :
“Kami keluar bersama Rosululloh untuk menguburkan jenazah salah seorang sahabat anshor, dan sampailah kami ke pekuburan ternyata lubang kuburnya belum digali, maka Rosululloh duduk menghadap ke kiblat dan kita pun duduk disekeliling beliau seakan-akan dikepala kami ada burung yang hinggap, Rosululloh memegang batang kayu dan menggaris-gariskannya ketanah, lalu beliau melihat ke langit lalu kebumi, beliau juga mengarahkan pandangan keatas kemudian menurunkannya, lalu beliau bersabda : “Berlindunglah kalian kepada Alloh dari adzab kubur.” lalu beliau berdoa : Ya Alloh, sesungguhnya saya berlindung kepadaMu dari adzab kubur ( 3X ), kemudian beliau bersabda : -tentang perjalanan seseorang mu’min maupun kafir setelah meninggal dunia-
(Shohih, HR. Abu Dawud , Hakim 1/37, Thoyalisi : 753, Ahmad 4/287, Lihat takhrij secara lengkap pada Ahkamul Jana’iz oleh Imam Al Albani hal : 202)
Hadits inipun sama sekali tidak bisa dibawa pada masalah talqin, karena beberapa hal:
  • Yang dilakukan oleh Rosululloh saat itu hanyalah memberikan wejangan kepada para sahabatnya tentang perjalanan seorang mu’min maupun kafir setelah meninggal dunia.
  • Hal itu dilakukan oleh Rosululloh sebelum mayit dikuburkan, tapi beliau melakukannya saat liang lahat masih digali.
(Lihat Subulus Salam oleh Imam Ash Shon’ani 1/577)
.
G. Kapan talqin dilakukan ?
Yang merupakan sunnah Rosululloh, bahwa talqin dilakukan saat seseorang akan meninggal dunia, dengan cara memerintahkannya untuk mengucapkan kalimat ikhlash Laa Ilaha Illalloh.
Banyak dalil yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya sabda beliau :
لقنوا موتا كم لا إله إلا الله، (من كان آخر كلامه لا إله إلا الله عند الموت دخل الجنة يوما من الدهر، وإن أصابه قبل ذلك ما أصابه)
“Talqinlah orang yang akan meninggal dunia diantara kalian dengan La Ilaha Illalloh. Barang siapa yang akhir ucapannya saat akan meninggal dunia La Ilaha Illalloh niscaya dia akan masuk surga suatu ketika, meskipun sebelumnya dia tertimpa sesuatu.”
(HR. Muslim, Ibnu Hibban dan Bazzar)
Dari Anas berakata :
Rosululloh pernah menjenguk salah seorang sahabat anshor. Beliau bersabda : Wahai paman, katakanlah La Ilaha Illalloh.”
(HR. Ahmad 3/152 dengan sanad shohih menuut syarat Muslim.)
Lihat Ahkamul Jana’iz oleh Syaikh Al Albani (hlm : 19)
Wallohu a’lam
.
Sumber:


Buku Rujukan:

Ahad, 8 Februari 2015

Ihsan Ilahi Zahir

Penulis baru sahaja selesai membaca biografi seorang insan bernama Ihsan Ilahi Zahir pagi ini. Terasa kagum dengan jasa beliau lalu timbul hasrat untuk menulis tentang beliau agar pembaca sekalian juga boleh mengenali beliau. Sebenarnya, penulis sedang mencari bahan rujukan untuk menjawab soalan rakan-rakan tentang tasawwuf. Kebelakangan ini juga, penulis sering mendengar nama beliau disebut-sebut oleh Ustaz Halim Hassan apabila beliau menceritakan tentang tasawwuf. Nama Ihsan Ilahi Zahir ini sebenarnya sudah pun penulis kenali sejak menuntut di UIA lagi. Masih terbayang kaset rakaman tentang Syiah oleh beliau diedarkan ketika itu kepada mahasiswa di UIA. 

Beliau adalah anak kelahiran Pakistan yang lahir pada 1360H (1945) di Sialkot, Punjab, Pakistan. Beliau telah hafal Al-Quran ketika berumur 9 tahun. Beliau tamat persekolahan biasa di sana dan turut mempelajari ilmu hadis dari Syaikh 'Athoillah Hanif serta ilmu falsafah dan mantik dari Syaikh Syarifullah.

Beliau berpeluang menuntut ilmu di Universiti Islam Madinah dalam jurusan Syari'ah dan tamat belajar di sana pada tahun 1961M. Beliau berjaya mendapat tempat pertama dari kalangan pelajar lain ketika itu. Ketika di Madinah, antara guru beliau adalah Syaikh Al-Albani, Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqiti, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbaad. Menurut Dr Muhammad Luqman As-Salafi, "... apabila keluar dari kelas, beliau selalu mengikuti Syeikh Al-Albani untuk bertanya tentang hadis, mustolah hadis, rijal hadis dan berbincang bersamanya. Syaikh sentiasa mendengar dan menjawab soalan-soalan dari beliau dengan senang hati...".

Setelah itu, beliau telah pulang ke Pakistan dan berkhidmat di Fakulti Undang-Undang dan Politik, Universiti Punjab. Beliau juga telah dilantik sebagai Khatib di masjid besar Ahli Hadis di Lahore. 

Di Pakistan, beliau meneruskan pengajian hingga berhasil menamatkan pengajian peringkat Sarjana dalam 6 bidang berlainan iaitu bidang Syari'ah, Bahasa Arab, Bahasa Parsi, Bahasa Urdu, Politik dan Undang-Undang. Semuanya di Universiti Punjab kecuali Undang-Undang di Universiti Karachi. 

Beliau juga - rahimahullah - pernah menjawat jawatan ketua Kompleks Kajian Islam, ketua redaksi majalah Turjuman Al-Hadis, mudir majalah mingguan Ahli Hadis.

Beliau pernah ditawarkan kerja di Arab Saudi tetapi beliau menolaknya dengan mengemukakan firman Allah ta'ala: 

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Dan tidaklah (betul dan elok) orang-orang yang beriman keluar semuanya (pergi berperang); oleh itu, hendaklah keluar sebahagian sahaja dari tiap-tiap puak di antara mereka, supaya orang-orang (yang tinggal) itu mempelajari secara mendalam ilmu yang dituntut di dalam ugama, dan supaya mereka dapat mengajar kaumnya (yang keluar berjuang) apabila orang-orang itu kembali kepada mereka; mudah-mudahan mereka dapat berjaga-jaga (dari melakukan larangan Allah). (Surah At-Taubah:122)

Beliau sering menghubungi pendakwah-pendakwah dan ulama ketika musim haji untuk berbincang dengan mereka tentang isu-isu dan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat Islam.

Beliau adalah seorang pengkaji yang hebat. Beliau banyak mengkaji dan menulis tentang kumpulan-kumpulan yang wujud dalam Islam. Antara kumpulan yang masyhur adalah Syi'ah Rofidhoh, Syi'ah Isma'iliyyah, Qadiani, Bahai, Brelwi dan Tasawuf.

Demi mendapatkan kajian yang berkualiti, beliau sanggup keluar negara untuk mendapatkan bahan rujukan yang tiada di negaranya. Antaranya, beliau telah ke Britain, Mesir, Iran untuk mendapatkan bahan rujukan tentang Qadiani, Bahai dan Syi'ah. Untuk bahan rujukan tentang Isma'iliyah pula, beliau telah ke Maghribi, Tunisia, Sepanyol dan Perancis.

Rujukan beliau juga dari pelbagai bahasa. Selain Bahasa Arab dan Urdu, ada juga buku berbahasa Inggeris dan Parsi. Semua ini, demi memastikan hasil kajian yang adil dan berkualiti dapat dimanfaatkan oleh umat Islam.

Dalam kajian beliau, lebih dari dua ratus bahan rujukan dirujuk. Beliau membaca tulisan-tulisan utama dalam bidangnya dan pergi ke sekolah-sekolah untuk memastikan rujukannya sahih, kata beliau, "... aku ke sana agar diyakini bahawa aku bukanlah dari golongan penipu".

Hasil kajian beliau akhirnya menjadi rujukan penting umat Islam. Kebenaran yang tersembunyi menjadi nyata dan kebatilan terbongkar. Akhirnya beliau dimusuhi oleh ramai yang mengakibatkan beliau terbunuh dalam satu insiden letupan bom di satu pertemuan antara ilmuan di Jam'iyyah Ahli Hadis, Lahore. Ketika itu, pada jam 11 malam, 23 Rajab 1407H, bom meletup ketika beliau sedang berucap lalu mencederakan 100 orang dari kira-kira 2000 yang hadir dan 14 daripadanya cedera parah. Beliau cedera parah.


Kehendak Allah, setelah diterbangkan ke Riyadh untuk dirawat di sana atas permintaan khas Syaikh Abdul Aziz bin Baz, beliau tidak dapat diselamatkan dan telah menghembus nafas terakhir pada 1 Sha'ban 1407H. Jenazah beliau telah disolatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz lalu diterbangkan dan dikebumikan di perkuburan Baqi' di Madinah Munawwarah.

Setelah mengetahui kisah insan bernama Ihsan Ilahi Zahir ini. Penulis merasakan bahawa hasil kajian beliau mempunyai nilai yang sangat tinggi yang perlu ada di rak buku rumah pembaca sekalian.


Abdullatef,
Chemomoi,
3.36 petang
8 Feb 2015

Jumaat, 5 Disember 2014

3 Permohonan Penting Setiap Pagi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan sebuah do’a, yang mana beliau sentiasa berdo’a dengan do’a ini setiap selesai solat subuh. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha:
((اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا ))
“Ya Allah, aku memohon kepadamu Ilmu yang bermanfaat, rezki yang halal, serta amal yang diterima” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Thabrani, dan yang lainnya, dan disahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam sahih Ibnu Majah]
Hal ini merupakan petunjuk yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, agar hari-hari kita tidak kosong dari 3 hal tersebut, yaitu:
Pertama, agar senantiasa kita Menambah Ilmu, bukan sekadar ilmu, akan tetapi yang diinginkan adalah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu agama, yang dengannya kita mengetahui apa-apa yang diinginkan Allah Ta’ala dan apa-apa yang telah disampaikan oleh RasulNya shallallahu’alaihi wasallam. Ilmu hanya diperoleh dengan mempelajarinya. Maka dengan memanjatkan do’a ini, kita berharap agar Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita sehingga terdorong hati kita untuk menuntut ilmu, mempelajarinya demi menghilangkan kejahilan dari diri kita. Tambahan pula, segala bentuk kemudahan telah tersedia pada hari ini, yang memudahkan kita untuk mendapatkan ilmu agama, bila-bila sahaja, dan dimana sahaja.
Kedua, agar kita juga Mencari Rezki, bekerja dan berbuat sesuatu, tidak hanya duduk menantikan pemberian dari orang lain. Islam menganjurkan kita mencari rezki demi untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah. Dengan rezki tersebut kita boleh menyempurnakan solat kita, dengan rezki tersebut kita boleh bersedekah baik yang wajib mahupun  yang sunnah, dengan rezki tersebut mungkin ia mencukupi untuk kita menunaikan umrah ataupun haji, dan segala bentuk ketaatan lainnya. Akan tetapi tidak bererti kesemua jenis rezki, yang kita pilih hanya yang halal. Kerana hanya rezki yang halal yang akan memberikan keberkatan. Dan kerana Allah Ta’ala tidak akan menerima kecuali dari yang halal dan baik.
Ketiga, agar kita banyak beramal soleh. Sangat penting amalan kita diterima Allah Ta’ala. Setelah bersusah payah, mengorbankan waktu, tenaga, harta, tentu kita ingin agar semua itu diterima Allah Ta’ala sehingga mendapat balasan yang diinginkan. Akan tetapi Allah hanya akan menerima amal yang soleh, yaitu amal yang berdasarkan 2 perkara penting: Ikhlas (semata-mata mengharap redha Allah), serta Muttaba’ah (beramal hanya dengan petunjuk yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam).
Dan ketiga perkara tersebut saling berkaitan satu sama lain.
Dengan Ilmu yang bermanfaat kita dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, hinggakan dalam mencari rezkipun kita tahu batasannya dan kita pastikan kita hanya mencari yang halal.
Dan hanya dengan ilmu lah suatu amal dapat diamalkan dengan benar, bersesuaian dengan apa yang diinginkan Allah dan RasulNya, supaya amalan tersebut diterima. Kerana amalan yang tidak berdasarkan ilmu, yaitu yang tidak berdasarkan petunjuk Allah dan RasulNya, maka amalan tersebut akan tertolak, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh A’isyah radhiyallahu’anha “Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan atas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak” (Riwayat Muslim, sahih).
Demikian juga, harta yang halal juga menentukan apakah amalan kita diterima atau ditolak. Sebagaimana hadis yang menceritakan tentang seorang musafir yang berdo’a kepada Allah dalam permusafirannya “Ya Rabb, Ya Rabb…” akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, sehingga Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda “Bagaimana do’anya akan dikabulkan?” (Riwayat Muslim, sahih). Padahal orang tersebut dalam keadaan dimana jika dia berdo’a, doanya tidak akan tertolak, akan tetapi Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menyatakan bahawa do’anya tertolak akibat makanan, minuman, serta pakaiannya berasal dari sesuatu yang haram.
Semoga dengan merenungi do’a diatas, dapat mendorong diri kita untuk senantiasa mengisi hari-hari yang kita lalui dengan ketiga amalan tersebut.
———————————-
Info Tambahan
Antara pengajaran lain yang kita dapat dari doa ini ialah:

  1. Dengan berdoa hanya kepada Allah, kita menunjukkan perakuan bahawa Allah bersifat Al-Samee’ السميع Maha Mendengar dan Al-Ghany الغني Maha Kaya.
  2. Kita juga memperakui bahawa diri kita adalah hamba kepada Allah. Kita tidak mampu mendapatkan apa-apa perkara berfaedah melainkan melalui pemberian Allah.
  3. Allah mengutuskan utusanNya untuk mengajar perkara yang sangat berfaedah kepada manusia. Dengan ini, kita juga memperakui tentang sifat Ar-Rahman الرحمن Allah iaitu sifatNya yang Maha Pemurah.

Makluman:
Artikel ini telah di sunting oleh Abdullatef. Artikel sebenar boleh didapati dari pautan berikut: http://pustakaalatsar.wordpress.com/2013/01/09/jangan-lewatkan-hari-tanpa-3-perkara-ini/, bertajuk “Jangan Lewatkan Hari tanpa 3 Perkara Ini!”, Pustaka Al-Atsar, 27 Shafar 1434H. Nota: Faedah dari penjelasan ustadz Abu Yahya Badrussalam dalam kajian Mukhtashar Minhajul Qasidin

Sabtu, 29 November 2014

An-Nu’man Bin Basyir

An-Nu’man Bin Basyir adalah seorang sahabat nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tergolong dalam golongan sahabat dari kalangan kanak-kanak. Antara sahabat lain yang sebaya dengan beliau adalah Abdullah bin Zubayr. Beliau telah dilahirkan oleh ibunya ‘Amrah bin Rawahah, 14 bulan setelah Nabi sallallahu ‘alayhi wa sallam sampai ke Madinah. Oleh itu, beliau dikira bayi pertama dikalangan Ansar yang lahir selepas hijrah nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam manakala Abdullah bin Zubayr (cucu Abu Bakr) pula merupakan bayi pertama yang lahir dari kalangan Muhajirin. 

Setelah beliau dilahirkan, ibunya membawa beliau menemui Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dan baginda memberitahu bahawa An-Nu’man akan hidup bahagia, akan mati syahid dan akan masuk syurga. Beliau telah terbunuh di Hims, pada tahun 63 hijrah.

Bapa beliau adalah salah seorang dari sahabat dan Ahli Badr yang bernama Basyir bin Sa’ad. Manakala ibu beliau adalah saudara perempuan kepada Abdullah bin Rawahah. Bapa saudara beliau, Abdullah bin Rawahah juga adalah seorang Ahli Badr dan penyair Nabi.

Antara kisah menarik dalam keluarga beliau ialah kisah pemberian sebahagian harta kepada An-Nu’man oleh bapanya. Ibunya tidak bersetuju dengan pemberian tersebut, lalu Basyir membawa anaknya An-Nu’man bertemu Rasulullah untuk bertanya akan hal tersebut. 

عَنْ ‏ ‏النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ ‏ ‏قَالَ: "تَصَدَّقَ عَلَيَّ أَبِي بِبَعْضِ مَالِهِ فَقَالَتْ أُمِّي ‏ ‏ عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ لا ‏ ‏أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏فَانْطَلَقَ أَبِي إِلَى النَّبِيِّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِي فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏أَفَعَلْتَ هَذَا بِوَلَدِكَ كُلِّهِمْ ؟ قَالَ لا قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا فِي أَوْلاَدِكُمْ فَرَجَعَ أَبِي فَرَدَّ تِلْكَ الصَّدَقَةَ"


An-Nu`man bin Basyir radhiallahu 'anhu meriwayatkan: Bapaku memberi sedekah kepadaku sebahagian daripada hartanya. Lalu ibuku berkata: “Aku tidak suka dengan pemberian ini sehingga engkau persaksikan kepada Rasulullah saw terlebih dahulu. Lalu bapaku pergi memberitahu Rasulullah saw tentang sedekahnya kepadaku. Lalu Rasulullah saw bertanya: “Adakah engkau beri kepada semua anakmu pemberian seumpama itu? Jawabnya: “Tidak”. Sabda Rasulullah saw “Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah berlaku adil terhadap anak-anakmu, lalu bapaku mengambil balik pemberian itu”. [Baca tentang berlaku adil ketika memberi kepada anak-anak di laman web Drhayei.com]

Ketika rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam wafat, beliau berumur 8 tahun.
Rujukan:
  1.  تهذيب سير أعلام النبلاء : جزء 1 - صفحة 106
  2.  البداية والنهاية : جزء 8 - صفحة 244Dari wikipedia.
  3.  عبد الله بن رواحة
  4.  Al-Bukhari, al-Hibah wa Fadluha: al-Hibah li al-Walad, bil. (2397). Muslim, al-Hibat: Karahat Tafdil ba`d al-Awlad fi al-`Atiyyat, bil. (3055). Al-Tirmidhi, al-Ahkam `an Rasulillah: Ma jaa fi al-Nihal wa al-Taswiyat bayn al-Walad, bil. (1288). daripada al-Nu`man ibn Basyir. Dari laman web DrHayei.com
  5. Mutiara Akhlak Rasulullah S.A.W.: 100 Kisah Teladan tentang Iman, Takwa, Sabar, Syukur, Ridha, Tawakal, Ikhlas, Jujur, Doa, dan Tobat
  6.  الحديث السادس: إن الحلال بين، وإن الحرام بين





Ahad, 16 November 2014

Q&A: Hukum memakan daging keldai

Soalan:
Ustaz, tolong carikan tentang hukum memakan keldai liar dan keldai peliharaan.
Jawapan:
Berikut adalah hadis yang menunjukkan larangan memakan daging Himar Ahliyah (Keldai Peliharaan). Hadis riwayat  Anas bin Malik,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ أُكِلَتْ الْحُمُرُ ثُمَّ جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ أُكِلَتْ الْحُمُرُ ثُمَّ جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ أُفْنِيَتْ الْحُمُرُ فَأَمَرَ مُنَادِيًا فَنَادَى فِي النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ فَإِنَّهَا رِجْسٌ فَأُكْفِئَتْ الْقُدُورُ وَإِنَّهَا لَتَفُورُ بِاللَّحْمِ
Bahawasanya telah datang seseorang kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata, “Daging-daging keldai telah dimakan”, kemudian datang lagi seseorang sambil berkata, “Daging-daging keldai telah dimakan” kemudian datang lagi seseorang sambil berkata “Keldai-keldai telah binasa.” Maka baginda telah memerintahkan seseorang untuk menyeru di tengah-tengah manusia, "Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian dari memakan daging-daging keldai peliharaan, kerana sesungguhnya ia adalah najis” Lalu, mereka menumpahkan periuk-periuk itu dan sesungguhnya ianya di gunakan untuk memasak daging tersebut.” (HR. Bukhari no. 5528 dan Muslim no. 1940)

Di sebaliknya, hadis berikut pula menunjukkan bahawa memakan daging keldai liar adalah dibenarkan oleh baginda Nabi sallallahu 'alaihi wa sallamAbu Qatadah menceritakan:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ حَاجًّا ، فَخَرَجُوا مَعَهُ فَصَرَفَ طَائِفَةً مِنْهُمْ ، فِيهِمْ أَبُو قَتَادَةَ فَقَالَ خُذُوا سَاحِلَ الْبَحْرِ حَتَّى نَلْتَقِىَ . فَأَخَذُوا سَاحِلَ الْبَحْرِ ، فَلَمَّا انْصَرَفُوا أَحْرَمُوا كُلُّهُمْ إِلاَّ أَبُو قَتَادَةَ لَمْ يُحْرِمْ ، فَبَيْنَمَا هُمْ يَسِيرُونَ إِذْ رَأَوْا حُمُرَ وَحْشٍ ، فَحَمَلَ أَبُو قَتَادَةَ عَلَى الْحُمُرِ ، فَعَقَرَ مِنْهَا أَتَانًا ، فَنَزَلُوا فَأَكَلُوا مِنْ لَحْمِهَا ، وَقَالُوا أَنَأْكُلُ لَحْمَ صَيْدٍ وَنَحْنُ مُحْرِمُونَ فَحَمَلْنَا مَا بَقِىَ مِنْ لَحْمِ الأَتَانِ ، فَلَمَّا أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّا كُنَّا أَحْرَمْنَا وَقَدْ كَانَ أَبُو قَتَادَةَ لَمْ يُحْرِمْ ، فَرَأَيْنَا حُمُرَ وَحْشٍ فَحَمَلَ عَلَيْهَا أَبُو قَتَادَةَ ، فَعَقَرَ مِنْهَا أَتَانًا ، فَنَزَلْنَا فَأَكَلْنَا مِنْ لَحْمِهَا ثُمَّ قُلْنَا أَنَأْكُلُ لَحْمَ صَيْدٍ وَنَحْنُ مُحْرِمُونَ فَحَمَلْنَا مَا بَقِىَ مِنْ لَحْمِهَا . قَالَ ‏"‏ مِنْكُمْ أَحَدٌ أَمَرَهُ أَنْ يَحْمِلَ عَلَيْهَا، أَوْ أَشَارَ إِلَيْهَا ‏"‏‏.‏ قَالُوا لاَ‏.‏ قَالَ ‏"‏ فَكُلُوا مَا بَقِيَ مِنْ لَحْمِهَا ‏"‏‏.‏
“Bahawa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam telah keluar (bermusafir) untuk haji. Telah keluar juga bersama baginda beberapa orang lain. Lalu sebahagian dari mereka telah berpisah. Terdapat bersama kumpulan tersebut, Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu. Beliau telah berkata (kepada kumpulan tersebut): “Ambillah laluan menyusuri tepian pantai hingga kita bertemu (semula)”. Lalu mereka pun mengambil laluan di tepian pantai. Sebaik sahaja berangkat, mereka semuanya telah berihram kecuali Abu Qatadah tidak berihram. Ketika mereka sedang berjalan, tiba-tiba mereka melihat ada keldai-keldai liar. Maka Abu Qatadah menghampiri keldai-keldai itu lalu menyembelih sebahagiannya, dia telah datang kepada kami. Maka mereka berhenti lalu memakan daging keldai tersebut. Dan mereka telah berkata: “Adakah kita boleh memakan daging haiwan buruan sedangkan kita sedang berihram?”. Maka kami bawa sisa daging tersebut. Ketika mereka berjumpa dengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami sedang berihram sedangkan Abu Qatadah tidak berihram. Lalu kami telah menjumpai keldai-keldai liar, lalu Abu Qatadah telah menangkapnya lalu menyembelihnya kemudian sebagian dagingnya dibawa kepada kami, lalu kami berhenti dan memakan dari daging tersebut kemudian kami berkata: “Adakah kita boleh memakan daging haiwan buruan sedangkan kita sedang berihram?”. Lalu kami bawa sisa dagingnya itu kemari”. Baginda bertanya: “Adakah ada diantara kalian yang sedang berihram menyuruh Abu Qatadah untuk memburunya atau memberi isyarat kepadanya?”. Mereka menjawab: “Tidak ada”. Maka Baginda bersabda: “Makanlah sisa daging yang ada itu”.” (HR. Bukhari no. 1824 dan Muslim no. 1196)
Dalam satu riwayat Abu Qatadah yang lain, beliau menceritakan bahawa rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam juga telah memakan bahagian kaki keldai liar tersebut.
قَالَ ‏ "‏ هَلْ مَعَكُمْ مِنْهُ شَىْءٌ ‏"‏‏.‏ قَالَ مَعَنَا رِجْلُهُ، فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَأَكَلَهَا‏.‏
Baginda telah berkata, "Adakah masih ada bersama kamu (daging tersebut)?" Dia telah menjawab, "Kami ada kakinya" lalu Nabi sallallahu 'alaihi wa sallam telah mengambilnya lalu memakannya. (HR Bukhari no. 2854)


Dalam Kitab Al-Umm, Imam As-Syafi'e rahimahullah ketika menerangkan riwayat berikut iaitu riwayat dari Ali bin Abi Talib,
 أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عام خيبر عن نكاح المتعة ، وعن لحوم الحمر الأهلية
"Bahawa Nabi sallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang, pada Tahun Khaibar, dari nikah mut'ah dan dari daging keldai-keldai peliharaan". 

Beliau mengatakan bahawa terdapat dua dalil dari riwayat tersebut. Pertama, dalil pengharaman memakan keldai peliharaan dan kedua, keharusan memakan keldai liar. Demikian ringkasnya, sila rujuk teks asal di sini

Catatan tentang Himar Wahsyi
Dalam bahasa Arab Himar Wahsyi boleh merujuk kepada keldai liar atau kuda belang. Maklumat dari Wikipedia menunjukkan bahawa keldai liar hidup di benua Afrika termasuk di negara Arab Saudi manakala kuda belang pula, sumber dari National Geographic, menunjukkan kuda belang tidak hidup di negara Arab Saudi.

Rujukan:


Jumaat, 31 Oktober 2014

Ikutlah wahyu jangan ikut orang ramai


أَكْثَرُ النَّاسِ 
kebanyakan manusia

...

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ  إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَن يَضِلُّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Dan jika engkau menurut kebanyakan orang yang ada di muka bumi, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah; tiadalah yang mereka turut melainkan sangkaan semata-mata, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia lah yang lebih mengetahui akan sesiapa yang sesat dari jalannya, dan Dia lah yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat petunjuk. (Surah Al-’An’am: 116-117)

Allah Ta’ala memberitahu tentang keadaan kebanyakan penduduk bumi dari kalangan anak Adam yang sesat. Sepertimana dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ الْأَوَّلِينَ
Dan demi sesungguhnya, telah sesat juga - sebelum kaummu (wahai Muhammad) - kebanyakan kaum-kaum yang telah lalu. (Surah As-Saffat: 71)

Dan firman-Nya lagi:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau terlalu ingin (supaya mereka beriman). (Surah Yusuf: 103)

Dan mereka sendiri dalam kesesatan mereka tidaklah yakin dengan urusan-urusan mereka bahkan mereka berada dalam sangkaan yang menipu. 

Apa lagi yang diberitahu oleh Allah tentang “Kebanyakan Manusia”?

1. Kebanyakan manusia menyesatkan :

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَمَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ
Dan jika engkau menurut kebanyakan orang yang ada di muka bumi, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah; tiadalah yang mereka turut melainkan sangkaan semata-mata, (Surah Al-An’am:116)

2. Kebanyakan manusia tidak bersyukur :

إِنَّ اللّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِوَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَشْكُرُونَ
“..tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. ” (Surah Al-Baqarah: 243)

3. Kebanyakan manusia tidak mengetahui kebenaran :

وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
“…tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Surah Al A’raf: 187)

4. Kebanyakan manusia lalai dari mengingat Allah :

وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

“.. Dan (ingatlah) sesungguhnya kebanyakan manusia lalai daripada (memerhati dan memikirkan) tanda-tanda kekuasaan Kami! ” (Surah Yunus: 92)

5. Kebanyakan manusia itu fasik :

وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

“..dan sesungguhnya kebanyakan dari umat manusia itu adalah orang-orang yang fasik ” (Surah Al Ma’idah: 49)

6. Kebanyakan manusia mengingkari Al-Quran :

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَـذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُوراً

“ Dan sesungguhnya Kami telah menerangkan berulang-ulang kepada manusia, di dalam Al-Quran ini, dengan berbagai-bagai contoh perbandingan (yang mendatangkan iktibar); dalam pada itu, kebanyakan manusia tidak mahu menerima selain dari kekufuran.”. (Surah Al-Isra’: 89)

7. Kebanyakan manusia mengingkari berjumpa dengan Allah :
وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ بِلِقَاء رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ

“ Dan sebenarnya banyak di antara manusia, orang-orang yang sungguh ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.” . (Surah Ar-Rum: 8)

8. Kebanyakan manusia tidak beriman :

إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ
“ ..akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman ”.(Surah Hud: 17)


Maka, setelah mengetahuinya, ikutlah petunjuk Quran dan Sunnah, tinggalkan apa yang diamalkan orang ramai.


Rujukan:

1. Al-Misbah Al-Munir fi Tahzib Tafsir Ibn Kathir, At-Tab’ah Ath-Thaniyah (Darussalam, Riyadh: 2000) m/s 442.